Fungsi utama ginjal adalah membuang asam urat yang berlebih. Kalau kemampuan meyaing ginjal sudah tdak baik, zat-zat sisa metabolisme, termasuk asam urat bisa kembali lagi dalam darah. Semakin lama, semakin menumpuk. Jadilah hiperurisemia. Menariknya, beberapa kasus menyebutkan penderita gagal ginjal malah tidak mengalami gout sebanyak yang diperkirakan, meskipun terjadi peningkatan asam urat dalam darahnya. Fenomena ini menjelaskan bahwa gagal ginjal tidak selalu menyebabkan penderitanya mengalami gout. Hiperurisemia dan gout memang memiliki hubungan sebab-akibat. Namun ingat hiperurisemia tidak selalu menyebabkan gout. Selain itu, kadar asam urat normal pun tidak selalu terbebas dari gout. Hanya sekitar 1% dari total penderita gagal ginjal ternyata mengalami gout. Adapun sekitar 30% penderita ginjal polikistik mengalami gout.
Penyakit ginjal polikistik adalah kelainan struktur ginjal. Pada penyakit gout ini, ginjal memiliki ‘kantung-kantung air”. Kantung-kantung air inilah yang mengganggu kemampuan filtrasi atau penyaringan ginjal. Akibatnya, asam urat tidak dapat dibuang melalui urine. Kelainan ini bersifat genetik dan merupakan penyakit keturunan. Sejak usia praremaja, penderita gout sudah menunjukkan tanda-tanda gangguan ginjal. Penderita gout akan cukup lama mengalami kondisi hiperurisemia yang menyebabkan pengendapan kristal MSUM di sendinya. Itulah sebabnya penderita gagal ginjal yang terjadi pada usia dewasa tidak serta merta mengalami gout. Berbeda dengan penderita gagal ginjal sejak usia muda akibat ginjal polikistik.
Sekitar 2/3 asam urat dibuang melalui ginjal, sedangkan sisanya dibuang melalui tinja. Oleh karenanya, pemeriksaan asam urat lebih akurat bila dilakukan melalui urine, bukan feses. Ada beberapa hewan yang memang bisa membuang asam urat dalam bentuk pasta. Akan tetapi hewan tersebut tidak dilengkapi kemampuan membuang asam urat melalui ginjal.
Asam urat memang sebagian dikeluarkan lewat keringat. Namun, jumlahnya hanya sekitar 6,3% dari total asam urat dalam darah. Jumlah ini sangat sedikit. Jika seseorang berolahraga terlalu keras supaya banyak berkeringat untuk menyingkirkan asam urat, bukanlah solusi yang baik. keringat berlebih dapat menyebabkan seseorang dehidrasi atau kurang cairan. Laju filtrasi glomerulus pun akan menurun. Jika laju filtrasi menurun, bisa dipastikan asam urat tidak dibuang dengan optimal oleh ginjal.
Tentu ada. Penyakit atau kondisi yang bisa menghambat pengeluaran asam urat di antaranya gagal ginjal kronis, hipertensi atau tekanan darah tinggi, olahraga berat, kelaparan, peminum alkohol, diabetes mellitus dan pemakaian obat-obatan diuretik untuk memicu pengeluaran urine.
Alkohol dapat menurunkan klirens urat pada ginjal sehingga asam urat tidak dapat dibuang dengan sempurna. Menariknya, para ilmuwan mengisitlahkan hiperurisemia dan gout yang dipicu oleh alkohol sebagai “poor man’s gout”. Artinya, gout yang dialami oleh orang miskin. Istilah ini muncul karena beberapa jenis minuman beralkohol bisa dibeli dengan harga yang murah.
Diabetes mellitus atau kencing manis adalah sebuah kumpulan keluhan yang disebabkan oleh kadar glukosa dalam darah di atas normal. Normalnya, kadar glukosa darah sekitar 40-150 mg/dl. Peningkatan kadar glukosa darah terjadi jika tubuh tidak dapat lagi merespon insulin. Resistensi insulin juga terjadi karena tubuh sudah jenuh oleh kandungan glukosa otot (glikogen) yang cukup banyak. Penelitian menunjukkan bahwa resistensi insulin memicu kondisi hiperurisemia dan gout.
Namun, banyak penelitian yang menunjukkan penderita diabetes melitus punya kadar asam urat yang tinggi dalam darahnya. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa resistensi terhadap insulin semakin memperparah kondisi hiperurisemia dan goutnya.





